Konsep Desapreneur Yakin Jadikan BumDesa Mampu Kuasai Pasar

Sumber Foto: Dokumen Pengrajin Olahan Limbah Koran di Desa Dewasari Ciamis

CIAMISKREATIF- Ada begitu banyak ironi yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat di desa kita. Desa sesungguhnya banyak memiliki berbagai macam produk yang bisa mensejahterakan warganya jika dipasarkan dengan tepat dan dengan metode yang benar. Tetapi sebaliknya, bukannya sadar akan potensi produk yang dimilikinya, sebagian warga desa malah suka membeli produk dari luar yang sama sekali tidak memberikan sumbangan pendapatan bagi desanya atau desa sebelahnya. malah begitu bangganya berbelanja di swalayan atau toko market retail milik perusahaan- perusahaan luar daerah (alfa-indomart). Bagaimana caranya membangun kesadaran pentingnya membeli produk lokal bagi semua warga Desa?

Desa-desa diseluruh Indonesia sesunguhnya menyimpan potensi besar yang bisa mensejahterakan, dan meningkatkan pendapatan juga taraf hidup warganya hanya saja sebagian warga atau kebanyakannya tidak tahu bagaimana memasarkan produk-produk yang diolahnya atau hanya sekedar melengkapi standar produksi tidak paham dan tidak tahu harus kemana dan bagaimana. Salah satau yang harus dilakukan adalah membangun pasar yang luas melampaui batas desa dengan pengetahuan para pengrajin dan pelaku kreatifitas mendapatkan pengetahuan tentang bagaimana perizinan produk, bagaimana packing yang baik, dan tentu pola pemasaran yang bagus. Bagaimana caranya sementara mobilitas warga desa terbatasi oleh waktu dan tenaga untuk berproduksi?

Bahkan sebuah desa hanya butuh beberapa anak muda untuk menciptakan perubahan ini. Namanya Desapreneur yakni anak muda yang memiliki kemauan tinggi untuk maju meski hidup di desa karena hari ini sebenarnya semua orang dimanampun bisa menciptakan perubahan itu. Caranya, melalui internet dan memanfaatkan dengan baik kemajuan teknologi saat ini. Maka, Desapreneur adalah anak-anak muda yang memasarkan produk desa melalui internet bisa terwujud.

Mereka hanya harus menemui orang-orang di desanya yang memiliki produk menarik yang bisa dijual secara online. Produk apa sajakah itu? Tinggal buka internet yang bisa Anda lakukan melalui smartphone untuk tahu itu dengan membuka pasar online, toko online yang kini bertebaran di internet. Jangan kaget, ternyata ada begitu banyak produk yang sebenarnya ada di desa Anda untuk di-online-kan dan semuanya itu memiliki potensi yang luar biasa. Lalu dipasarkan kemanakah sebaiknya produk desa?

Bumdes berbasis market online dan pelayanan prima kepada masyarakat adalah pasar yang memfokuskan diri pada penjualan produk-produk desa melalui online dan pelayanan prima atas kebutuhan masyarakat dengan sedikit sentuhan konsep COD atau model salam. Beragam kategori produk desa bisa dipasarkan melalui internet dengan cara yang sangat sederhana. Hampir setiap anak muda dipastikan bisa mendaftarkan produk dan mengoperasionalkannya sebagai seorang penjual.

Maka konsep Desapreneur adalah anak-anak muda yang menggantikan fungsi sebagai penjual bagi warga desa yang sebagian besar tidak memiliki kemampuan berinternet. Desapreneur akan mendapatkan pendapatan dari kesepakatan dengan produsen mengenai harga produk yang dijualkannya. Apa keuntungan produsen bekerjasama dengan Desapreneur.

Kehadiran konsep Desapreneur memasarkan produk melalui internet akan memotong jarak antara produsen kepada konsumen seperti yang terjadi pada model perdagangan offline. Hal ini akan menciptakan peluang peningkatan harga dan laba yang bisa diperolah produsen. Selisih itulah yang akan menjadi bagian di Desapreneur.

Tugas Desapreneur adalah memonitor pergerakan produk dengan baik. Desapreneur akan memberitahu produsen ketika ada pembelian dan memastikan si produsen melakukan pengemasan dan pengiriman sesuai aturan main yang ditetapkan. Ini adalah kerjasama yang akan saling menguntungkan antara produsen dan Desapreneur. Maka jika ini dijalankan, bukan hanya akan tercipta wirausahawan muda di desa melainkan bakal pula tercipta peningatan pendapatan para produsen dan UKM-UKM di pedesaan. Ini juga salah satu cara agar produk lokal Indonesia menguasai pasar.  Jadi, kenapa tidak kita dimulai dari sekarang Desapreneur?(Mujib)